Ajang Pemilu 2019, Jadi Cerita Duka 5 KPPS Wafat di Bogor

Bogor- Pemilu 2019 menjadi ajang cerita duka bagi 5 orang petugas pemungutan suara (PPS) di Bogor, yang wafat saat bertugas untuk mensukseskan pesta demokrasi rakyat lima tahunan. PPS yang yang gugur sebagai pahlawan demokrasi juga terdapat 49 orang se Jawa Barat (Jabar).

Mereka rata-rata berpulang setelah melawan rasa lelah saat melaksanakan tugas. Masih hangat  Ketua PPS (KPPS) 75 Kelurahan Tegal Gundil, Sofyan yang wafat, Selasa (23/4). Sehari sebelumnya meninggal dunia, Rasti Ketua PPS 31, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Senin (22/4).

"Kemudian ada juga enam orang PPS yang mendapat perawatan dirumah maupun dirumah sakit. Mereka ada yang jatuh dari motor karena lelah kemudian ngantuk dan juga ada yang sakit,"jelas Ketua KPUD Kota Bogor, Samsudin.

Sementara itu, jumlah pejuang demokrasi yang telah tiada di Kabupaten Bogor,  bertambah dari dua menjadi tiga orang. Neneng Jamilah Ketua KPPS 16 Desa Galuga, Desa Galuga Kecamatan Bogor,gugur dalam perjalanan pulang seusai merekap raihan suara dalam rapat plenodi PPK Cibungbulang.

 Almarhum yang berboncengandengan Popon, petugas PP, mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Cemplang, Selasa (23/4) tepatnya pukul 19:00 WIB. Kondisi Popon saat ini tidak sadarkan diri di RSUD Leuwiliang. Diduga insiden tersebut akibat rasa ngantuk karena kelelahan.

"Istri saya menghembuskan nafas terakhir di RSUD Leuwiliang. Sedangkan Popon  masih tak sadarkan diri dirumah sakit,"jelas Hasan Bisri saat ditemui dirumah duka yang beralamat di Kampung Galuga.

Komisioner KPUD Kabupaten Bogor, Heri Setiawan menyampaikan, sebelumnya Ketua PPS yang pupus saat menjalankan tugas dua orang.

Dia pun menyebutkan dengan rinci yaitu Ketua KPPS di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Jaenal  yang meninggal dunia pada hari pencoblosan Rabu (17/4/2019) petang.

Kemudian Ketua Ketua PPS Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede Rusdiono  meninggal  pada Kamis (18/4) malam.

"Kedua orang tersebut tengah melakukan monitoring ke TPS diwilayah masing-masing,"kata Heri. Dengan demikian, dari yang terangkum jumlah Ketua PPS yang gugur totalnya lima orang dari Kota dan Kabupaten Bogor.

Terpisah, di Gedung Sate Kota Bandung, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, menyantuni 49 orang  PPS dan 3 orang anggota Polri yang gugur saat bertugas mengamankan pelaksanaan Pemilu 2019 di ranah Jabar.

Masing-masing keluarga duka menerima Rp 50 juta. Kang Emil pun meminta verifikasi data petugas yang meninggal secepat mungkin. Karena penyaluran santunan dikirim melalui nomor rekening.

"Kita memberikan penghargaan bagi mereka yang kita sebut pahlawan demokrasi ini santunan Rp 50 juta. Saya minta jangan dilama-lama.

"Nanti kami transfer, setelah data nomer rekening masuk dan data (keluarga petugas yang meninggal) terverifikasi,"imbuhnya.

Kang Emil pun berharap tidak ada lagi jatuh korban petugas Pemilu tahun ini lantaran kelelahan. Sebab, proses penghitungan suara masih belum selesai.Dia pun mengintruksikan setiap kepala daerah Kabupatan atau Kota mempersiapkan layanan kesehatan dengan jemput bola ke lokasi.

"Jangan ada lagi berita  yang meninggal dunia lagi. Proses penghitungan pemilu belum selesai. Sampai minggu ketiga Mei kan masih berlangsung,"harapnya.

Dengan fakta  banyak korban kelelahan, orang nomor satu di ranah Jabar itu meminta penyelenggara pemilu agar melakukan evaluasi. Kedepaanya, agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Ketua KPU Jabar Rifqi Ali Mubarok mengemukakan, untuk pelaksanaan pemilu sekarang lebih fokus kepada pengamanan dibandingkan tim kesehatan. Sehingga diakuinya,  tidak memprediksi akan adanya puluhan petugas pemilu meninggal dunia di Jabar.

" Tapi sudah ada keterangan surat sehat sebelum memulai pekerjaan ini. Karena Satu hari dapar memakan waktu 10 jam dan bisa berjalan satu minggu," tukasnya.

Asep Saprudin