Cerita Dea Remapa SMAN 6 Kota Bogor, Berjalan Diantara Lumpur Dan Terjebak Longsor Susulan Sukajaya

Cerita Dea Remapa SMAN 6 Kota Bogor, Berjalan Diantara Lumpur Dan Terjebak Longsor Susulan Sukajaya

 

Bogor- Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bogor, termasuk Kecamatan Sukajaya, pada awal tahun 2020 kemarin. Menjadi cerita duka dipembuka tahun sekarang. Musababnya, tak sedikit pemukiman warga luluh lantak dan korban berjatuhan

. Namun dibalik peristiwa menyedihkan itu, pasti terdapat hikmah yang terkandung. Hal itu pun dirasakan oleh para tim relawan yang terjun ke tempat bencana, terutama di Kecamatan Sukajaya yang mengalami rusak parah. Akses jalan pun lumpuh, rumah-rumah warga luluh lantak diterjang longsor dan banjir.

Bahkan tak sedikit korban jiwa berjatuhan akibat bencana alam tersebut. Alhasil, bencana alam itu pun menyedot perhatian kalangan masyarakat, terutama para relawan yang datang dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang untuk membantu. Mereka pun terjun langsung ke lokasi bencana  dengan membawa beragam keperluan warga terdampak bencana.

Tak terkecuali tim relawan Remaja Pencita Alam (Remapa) SMAN 6 Kota Bogor, yang juga turut andil dalam aksi kemanusian bagi korban bencana Sukajaya. Tim Remapa itu pun menggalang bantuan hingga mendistribusikan langsung ke tempat-tempat terdampak bencana.

Ialah Dea Tiara, salah satu anggota relawan Remapa SMAN 6 Kota Bogor, yang ikut dalam misi kemanusiaan dalam membantu warga yang jadi korban bencana alam Sukajaya. Dea mengaku, banyak hikmah dan pelajaran selama menjadi relawan dilokasi bencana.

"Menjadi sebuah momentum dan Merupakan pengalaman baru untuk terjun langsung ke lapangan, dari awal saya melihat dari media melalui pemberitaan. Terutama Televisi menyangkan berita terjadi bencana alam banjir dan tanah longsor di daerah Bogor sangat excited,"jelas Dea Tiara belum lama ini.

Mengetahui banyak korban yang membutuhkan bantuan, hati dara itu pun tergerak untuk membantu. Akhirnya, melalui organisasi pecinta alam sekolan dirinya bergamung dalam tim relawan Remapa. Kegiatan sosial pun dimulainya dengan menghimpun bantuan serta mendistribusikan ke lokasi bencana.

"Disana saya dan kawan-kawan satu organ membawa 19 karton beserta mie instan. Di pandu dan di arahkan oleh tim Basarnas ke lokasi tempat terjadinya bencana,"ceritanya.

Mendapati akses jalan yang buruk dan tumpukan lumpur. Diakuinya, jadi tingkat kesulitan tinggi untuk mencapai lokasi tujuan. Dengan kelengkapan seadanya, tim relawan Remapa SMAN 6 Kota Bogor, kian bersemangat untuk menunaikan kegiatan mulia tersebut.

"Karena memang sudah niatnya akan terjun langsung ke tempat terisolir. Meskipun tidak ada persiapan-persiapan seperti sepatu seftybooth,headlamp,Cartier,P3K, dan lainya, saya tetap semangat. Karena waktu itu saya pikir kasian warga butuh bantuan kiriman makanan dan lainya,"ujarnya.

Ditengah usaha keras perjalanan tim relawan, lanjut dia, tiba-tiba terjadi longsor susulan yang material tanahnya menutupi jalur jalan. Buntutnya, tim pemandu Bazarnas dan tim relawan Remapa pun terjebak oleh tumpukan tanah, terpaksa harus menghentikan sementara perjalananan.

"Karena terjadi longsor susulan tersebut. Kami harus tracking selama kurang lebih 2 jam ke daerah Desa Harjatjaya. Karena saat itu di Kecamatan Sukajaya belum ada posko-posko penampungan para pengungsi. Sedangkan para pengungsi, mengungsi ke rumah-rumah warga yang masih dalam kondisi aman atau gedung-gedung sekolah,"ulas Dea menceritakan pengalamannya.

Setibanya dilokasi pemukiman warga terimbas bencana, Dea pun merasa terenyuh dan sedih melihat kondisi warga, terutama anak-anak dengan mimik muka sedih. Mereka kehilangan tempat tinggal yang rata dengan tanah, juga ada yang terkubur oleh material longsoran.

"Energency lamp,lilin,makanan instan dan minuman kemasan, popok,susu pembalut sangat di perlukan para pengungsi. Bahkan di Desa Urug 11 rumah tertimbun material longsor. Selain itu lahan pesawahan pun rusak. Bagi saya cukup memprihatinkan,"urainya.

Memang bagi Dea, kegiatan sosial ditengah korban bencana alam itu menjadi pengalaman berharga. Gadis jelita itu pun tidak dapat melepas kesedihannya, ketika melihat penderitaan-penderitan  korban. Kendati demikian, dirinya pun merasakan haru dengan hadirnya banyak relawan yang menjalankan aksi solideritas bagi sesama terdampak bencana.

Sementara itu, Faqih Meida selaku panitia tim Remapa SMAN 6 Kota Bogor menambahkan, dengan menggelar kegiatan sosial membantu para korban bencana tersebut, menjadi pelajaran bagaimana mengasah simpati serta kepedulian akan sesama dilokasi bencana.

"Kegiatan bakti sosial ini, kami mendapatkan hikmah dan pembelajaran di tempat kejadian bencana. Karena solidaritas itu tidak harus saling kenal mengenal. Akan tetapi dilihat dari antusias para relawan yang membuat akses menuju lokasi terjadinya bencana dengan medan jalan yang lumayan sulit,"tambahnya.

Melihatnya, Faqih mengaku kagum dengan para relawan yang datang dari berbagai latar belakang. Mereka seolah tanpa kenal lelah, peduli terhadap korban bencana. Cerminan itu, sambung dia, menggambarkan kuatnya tali persuadaraan sesama anak bangsa ditengah kawasan bencana.

"Saya juga kagum dengan beberapa relawan yang rela jauh-jauh menempuh tempat terjadinya bencana kurang lebih enam jam. Dan disana kami juga melihat bagaimana sigapnya Pemerintah setempat selalu siap untuk membantu para korban yang terkena dampak bencana tersebut."tukasnya.

Surip Santoso