Cerpen: Agustus 1992, Kisah Tak Sempurna (Bagian -1)

Cerpen:  Agustus 1992, Kisah Tak Sempurna (Bagian -1)

AGUSTUS 1992 KISAH TAK SEMPURNA

Part-1

BULAN Agustus 1992 , Siang itu Udara begitu terik, mengharuskan setiap orang berteduh di bawah payung, pohon yang rindang atau tempat berteduh yang beratap karena terik mataharinya sangat begitu menyengat serasa membakar kulit.

Terlihat seorang pemuda berjalan gontai mengenakan seragam sekolah menengah dengan berpenampilan sedikit selenge’an dengan rambut gondrongnya yang sedikit berantakan. Dia berjalan ke arah sebuah pasar tradisional Dan masuk ke sebuah perumahan di dekat pasar tersebut.

Dia pun menuju ke arah sebuah rumah Yang memang arah yang dia tuju, Dan...”Tok,tok,tok Assalamualaikum permisi,” Suara pemuda berseragam sekolah tadi memecah keheningan di sebuah rumah di perumahan itu.

“Walauikumsalam”, Terdengar suara perempuan dari dalam rumah. “Eh...Ryan kirain siapa, dari mana kamu?”,Ucap seorang gadis sebayanya di balik pintu yang dia buka. “Halo Karol...? Aku habis dari rumah Ferry dan kebenaran rumah kamu deket sini aku sekalian mampir aja sekalian lewat he..he...he..."

Menanggapi pertanyaan Karol dengan gayanya yang memang selenge’an gaya anak badboys di usia sekolah menengah. Dan Karol pun mempersilahkan masuk ke kawanya yang baru datang tadi yang ternyata masih kawan lamanya waktu di sekolah menengah pertama.

“Dari mana kamu Ryan ko masih make baju seragam, kan upacara hari kemerdekaan tadi pagi, kamu belum pulang yah?” Karol bertanya kepada Ryan yang datang bertamu ke rumahnya. “Kan aku udah bilang tadi dari rumah Ferry langsung mampir ke sini, ga mudeng kamu yah...? jangan-jangan udah pikun yah ha...ha...ha...” balas Ryan dengan candanya kepada Karol.

“Enak aja loe gue dibilang pikun he...he...” Timpal Karol sabil tertawa manis... Suana saat itu membawa mereka ke obrolan yang mengasyikkan hingga menjelang sore, “ Karol? Ko jantung kamu bedetak keras, kenapa?”tanya Ryan Dengan raut kening berkerut.

Karol memandang lelaki di sampingnya dengan senyum,”Engga kok biasa aja, Sotoy kamu” “Beneran...?Coba sini aku coba aku pegang tangan kamu merasakan detakan urat nadimu di tangan”. Sambil meraih tangan Karol, Ryan merasakan urat nadi di tangan Karol “Tuh kan beneran detak jantung kamu berdetak engga teratur? Hahahaha”. Ucap Ryan sambil ketawa.

“Engga ah...” Balas Karol lembut malu-malu menimpali ucapan Ryan. Tiba-tiba Ryan dengan tangan kananya meraih tubuh Karol dan menjatuhkan ciuman tiba-tiba di bibir sang gadis, dan tampa sadar Karol pun membalas ciuman Ryan untuk beberapa saat dan begitu Karol tersadar mendorong tubuh Ryan dan menjauh beberapa jengkal.....

“Plaaaaak”, terdengar suara tamparan ringan dari tangan seorang gadis belia yang menampar pipi sahabatnya karena tiba-tiba menjatuhkan ciuman ke bibir sang gadis. Untuk beberapa saat keduanya terdiam dan terpaku karena kejadian itu.

“Kok kamu tega sih Yan, kan kamu itu pacar sahabatku’” Ucap Karol setelah kejadian tak terduga itu dengan wajah memerah menahan amarah campur bingung. Dan Ryan pun menimpali ucapan Karol,”Aku minta maaf? aku khilaf Karol..” dengan wajah tertunduk malu.

“Terus terang Yan, Aku juga sebenernya suka dan sayang sama kamu tetapi kamu pacar sahabatku Yan dan aku engga bisa menghiati dia,” Ungkap Karol dengan wajah tertunduk dan matanya berkaca-kaca terlihat sedih.

“Sekali lagi aku minta maaf Karol atas perlakuan ini padamu dan tolong jangan sampai masalah ini dia tau.” Ucap Ryan dengan nada memohon kepada Karol. Dan mereka berdua terdiam terbawa dengan perasaan mereka masing-masing karena secara tiba-tiba dan begitu cepat semuanya terjadi tampa mereka sadari.

Itulah cinta tidak memandang keadaan, waktu,usia dan tempat dimana saja cinta bisa datang secara tiba-tiba. Keheningan saat itu terpecah “,Karol sekali lagi aku minta maaf atas perbuatanku dan semua yang terjadi sekali lagi aku minta maaf Karol?” Ucapan Ryan memecah suasana dengan kalimat memohon kepada Karol.

Dan Karol masih tetap terdiam dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca dan muka di balut rasa bingung bercampur sedih. Terlihat Ryan akan beranjak pergi dan pulang dari rumah Karol. Dia masih memandang raut wajah Karol yang masih terlihat bingung dengan kejadian beberapa saat lalu.

“Karol hari sudah sore, aku harus pulang Karol.” Suara Ryan memecah kesunyian mereka berdua. “Oh iya Yan..,” Balas Karol dengan nada gugup masih sedikit gemetar dengan raut wajah yang masih di balut kesedihan bercampur aduk dengan dengan semua perasaannya karena peristiwa yang baru saja terjadi di sore itu.

“Cup...” tiba-tiba Ryan mendarat kecupan di kening Karol dengan mesra dan penuh kasih sayang dan Karol hanya pasrah menerima kecupan mesra itu dengan perasaan masih penuh kebingungan dengan apa yang terjadi. Sebuah lingkaran perasaan suka,cinta dan kasih sayang.

Apakah jawaban dari semua kejadian ini? Karol masih tak bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya yang masih penuh kegalauan.

“Ok..,Karol aku pulang dulu yah sekali lagi aku minta maaf atas perbuatanku sama kamu tapi terus terang aku memang suka sama kamu Karol, itu saja yang perlu kamu tau dan cukup ini jadi rahasia kita berdua, tolong jangan Sampai sahabat kamu tau tentang semua yang terjadi antara kita Karol”.

Ryan memohon pamit untuk pulang sambil menyampaikan kalimat pesan kapada Karol dengan nada memohon... “Iyah Yan...?” Balas Karol melihat Ryan bersiap-siap akan melenggang pulang dari rumahnya dengan tatapan yang masih bingung dan senyum tipis yang sedikit terpaksa di wajah Karol.

Dengan sedikit senyuman sambil memakai sepatu Ryan berpamitan kepada Karol dan melenggang pergi. Karol masih tertegun di halaman depan rumahnya menatap kepergian Ryan yang telah membuat hatinya bergejolak penuh misteri yang belum bisa dia pecahkan. 17 Agustus 1992 sebuah kisah indah yang pernah terjadi dan takan pernah terlupakan.

Penulis : Surip Santoso