Dari Hati

Dari Hati

Siang itu  sekitar pukul 13.25 di sebuah gedung olah raga sport center dan tempat santai kafe serta resto lumayan ramai di penuhi pengunjung karena hari itu memang hari sabtu long weeken. 
Tak jauh dari sebuah kafe tempat nongkrong untuk sekedar ngopi dan bersantai ponsel Abee berdering tiba-tiba, dengan sigap dia meraih ponselnya yang diletakan di meja lalu melihat nama si penelepon yang ternyata sahabat dekatnya. 
“Bee...!!aku kecelakaan bee, kakiku luka parah”, terdengar suara seorang wanita yang terdengar panik kesakitan di speaker ponsel Abee.
“Kamu dimana sekarang Yulia dan kondisi kamu bagaimana!” Balas Abee balik bertanya ke lawan bicaranya di ponsel dengan raut wajah terkejut serta diliputi kepanikan.
“Alhamdulillah Bee,.. Aku aman sekarang di tempat tukang urut tradisional Bee?” Suara Yulia masih terdengar terbata-bata lalu melanjutkan pembicaranya. “Kebetulan di sini ada tukang urut yang bisa mengobati karena posisi aku jauh kemana-mana dan hanya ini tempat pertolongan pertama yang letaknya paling terdekat,” Jawab Yulia dengan nada suara merintih kesakitan.
“Posisi kamu percisnya dimana, biar aku jemput ke sana Yulia kamu sebutkan saja alamatnya biar aku jemput kamu sekarang juga ke sana,” sambil bersiap siap Abee seperti akan meninggalkan tempat olah raga yang biasa dia berkumpul bersama kawan-kawanya saat libur bekerja.
“Engga usah Bee? kamu ke rumahku aja tolong kasih tau saudaraku karena sulit aku hubungi ya Bee?aku mau di antar ke rumah oleh penduduk setempat Yang menolong aku ditempat kejadian Bee?...Makasih banyak ya Bee”, balas sahabatnya lewat ponselnya.
“Ok ok aku akan segera ke sana, tapi kamu masih sadar kan Yulia?” Tanya Abee di ponselnya.
“ Iyah Bee aku masih sadar ko Bee? Pokonya kamu tenang aja di sini aku aman Bee banyak yang membantu aku mengantar aku ke rumah Bee, tolong jangan lupa kasih tau adiku yah sulit ku hubungi dari tadi”, Jawan Yulia di ponselnya.
“Ok kalo begitu aku ke rumahmu sekalian aku nanti membeli obat, agar kamu engga demam Yul, ok?” Sikap Abee di perhatikan oleh kawan-kawannya Yang memang sedang melakukan aktivitas di tempat itu Dan salah satu kawannya bertanya,” Ada apa Bee ko kamu seperti terkejut dan gelisah? Seperti orang kebingungan abis terima telepon?dari siapa sih?” Tanya kawanya yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya yang tiba-tiba berubah aneh seperti orang gelisah diliputi kepanikan.
“Iyah nih tiba-tiba grasa-grusuh mau pergi? kan kegiatanya belum beres kita Bee?” Bantah kawanya Yang lain karena sikap Abee yang tiba-tiba berubah itu.
Untuk mengatasi  berbagai pertanyaan kawan-kawannya Abee pun lantas menjelaskan kenapa dia tiba-tiba panik”,Begini teman-teman sababatku mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang di kawasan wisata air terjun karena kendaraan yang mereka tumpangi tergelincir di tanjakan makanya aku panik saat dia telepon”, Penuturan Abee kepada kawannya.
“Oh begitu Bee ? ok lah kalau memang kamu mau jemput dia, ya udah silahkan Bee? Semoga kawanmu segera pulih Bee Salam aja dari kami ok Bro?” Salah seorang kawanya memberikan suport kepada Abee.
“Waaah jangan-jangan ada apa-apanya nih sama kamu, kayanya perhatian banget kamu Bee? Wanita special yaaaah....,” celetuk salah satu kawanya yang kepalanya sedikit plontos di tengah karena rambutnya rontok sambil senyum-senyum kepada Abee di barengi tawa kawanya yang lain.
“Udah-udah loe temen nya Abee lagi dapet musibah bukanya di do’ain ko malah ledekin sih...!” Timpal salah satu kawan wanitanya yang memang mereka kawan satu sekolah saat di SMA.
“Iyah nih bukanya ikut di Do’ain biar si Abee cepet dapet bini tuh hehehe...” celoteh kawanya yang kepalanya pelontos tadi sambil bercanda.
Namun Abee hanya senyum-senyum aja menanggapi celotehan kawan-kawanya, yah karena memang dia sendiri yang belum memiliki pendamping hidup ketimbang kawan-kawanya seangkatanya  jaman sekolah.
“Ya ok lah kawan-kawan Aku pulang duluan yah mau lihat kondisi kawanku Yang mengalami kecelakaan? Dan terima kasih atas doanya kawan sekalian aku terima kasih banget nih” lalu bergegas Abee pergi dari tempat itu untuk menjenguk kawanya yang mendapat musibah tadi.
Di sepanjang perjalanan Abee pun merasakan kekawatiran sambil membayangkan bagaimana kejadian kecelakaan yang menimpa sahabatnya itu  sambil memanjatkan doa untuk sahabatnya yang  mengalami kecelakaan semoga tidak separah yang Ia bayangkan.
Walau bagaimanapun dari semenjak SMP dia sudah mengenal sahabat dekatnya itu dan sama sahabatnya pun masih belum memiliki pendamping dan entah alasanya apa sampai saat ini dia masih sendiri mungkinkah sahabatnya dekatnya itu suatu saat bisa menjadi belahan jiwanya.
Abee sangat mengharapkan dan membayangkan akankah terjadi sebuah hubungan yang istimewa dengan sahabatnya itu dan mau menerima dirinya apa adanya.
“Oh Tuhan.... ku cinta dia...ku sayang dia...” sambil mengingat beberapa bait sebuah lagu yang membawa angan-anganya membayangkan tentang sahabat baiknya itu.
Lalu dia sempat menepi di sebuah toko obat untuk membeli beberapa jenis obat untuk sahabatnya itu semoga bisa berguna.
Beberapa saat kemudian dia sampai di sebuah gang   lalu dia menepikan kendaraanya di depan sebuah rumah yang sedikit besar dengan balutan bangunan seperti rumah lama yang lumayan bagus.
Dia sedikit bingung dan grogi karena rumah tersebut sudah di penuhi banyak orang dan hal itu sempat membuatnya sedikit kikuk, namun dia memberanikan diri untuk masuk demi sahabatnya yang sudah membuat hatinya diliputi perasaan galau.
“Assalamualaikum ?permisi...? Yulianya ada?” Suaranya sempat membuat orang-orang yang ada dirumah itu memandangi kedatanganya.
“Walaikum salam,” kumandang balasan salam dari benerapa orang yang ramai di rumah itu. 
Dan salah satu lelaki dari mereka menemui Abee di pintu pagar rumah sambil bertanya,”Oh...kawanya Yulia yah?mari silahkan masuk”. Sambil mempersilahkan agar Abee masuk ke dalam rumah tersebut.
“Oh iyah saya kawanya Yulia, katanya dia
mendapat kecelakaan tadi Mas? Dia tadi sempat menghubungi saya untuk mengabari saudaranya yang ada dirumah ini,”balas Abee kepada lelaki tersebut.
“Iyah benar dia kecelakaan tadi sama kawanya? saya adiknya dan memang saya tadi sedang ada diluar ketika Yuli telepon saya.”ungkap lelaki itu menjelaskan kejadian kecelakaan tersebut yang tidak lain termyata adik sahabatnya.
“Mari Mas masuk Yulia nya sudah ada di dalam di antarkan pulang sama yang menolonng dia di tempat kejadian tadi, Mari silahkan masuk saja Mas?” Ajak pria tersebut mempersilahkan Abee masuk ke dalam.
Begitu Abee masuk ke dalam rumah yang memang sudah ramai dipenuhi saudara dan tetangganya Abee pun sempat grogi namun kekuatan hati lebih besar ketimbang kebaranianya hingga dia berani menguasai keadaan di sekitarnya dan dia melihat sahabatnya sedang duduk di sebuah kursi roda layaknya orang sakit dalam kondisi sedikit berantakan karena terlihat dari wajahnya yang masih menahan rasa sakit. 
Walaupun begitu saat dia melihat kedatanganku dia  tetap di balut senyuman khasnya yang tidak pernah berubah, tetap menggetarkan hatinya saat terakhir Abee bertemu dengan sang pujaan hatinya saat masih SMA.
“Hai..Abee dengan siapa kamu ke sini?” Suara Yulia memecah suasana di keramaian orang-orang yang menjenguknya begitu melihat kedatanganku dan merekapun mengarakan pandangannya kepadaku membuat aku tambah kikuk.
“Halo Yul...gimana kondisi kamu aku kewatir dan kaget sekali saat kamu telpon tadi membuatku kacau tadi, tapi engga terlalu parah kan kaki kamu..” timpalku sambil bertanya balik kepadanya.
“Alhamdulillah Bee berkat pertolongan orang-orang di tempat kejadian tadi aku sedikit mendingan dan kakiku pun sudah mendapatkan pertolongan dari orang di tempat kejadian yang kebeneran memang ada tukang urut tradisional disana Bee.”ungkap Yulia sedikit tenang sambil menjelaskan kronologis kajadian Yang menimpanya tadi siang dengan kaki bagian engsel  kanan terbalut perban dan pembalut kaki seperti layaknya orang yang terkilir.
“Ya...sudahlah Yul?kita ambil hikmahnya dari semua kejadian ini kamu harus sabar yah semoga cepat sembuh dan ini aku bawa kan beberapa obat-obatan mungkin bisa berguna buat luka kamu, aku berharap cepat pulih seperti sedia kala yah?” Balaksu sambil memberikan beberapa jenis obat-obatan kepadanya.
Tidak berselang beberapa lama setelah aku ngobrol dengannya dan saudaranya akupun mohon pamit pulang karena hari sudah sore, takut menggangu dia sepertinya harus istrirahat karena memang dia masih sedikit trauma atas kejadian tersebut.
Dan akupun berpamitan kepada Sahabatku Yulia serta orang-orang yang ada di tempat tersebut dengan hati terenyuh namun sedikit lega dan bersyukur karena lukanya tidak separah seperti yang terbayang di pikiranku tadi siang.
“Yul aku pamit pulang dulu yah?kalo kamu  perlu sesuatu kamu hubungi aku aja, Jangan sungkan-sungkan yah Yul”, kataku sambil bersiap-siap berpamitan pula kepada orang-orang yang ada di tempat itu.
“Iya Bee? Kalo aku perlu sesuatu aku akan hubungi kamu Bee,” balasnya terlihat sudah mulai lelahsambil meneruskan bicaranya,”Terima kasih banyak ya Bee obat-obatanya aku belum tentu bisa membalas kebaikan kamu, karena kamu pertama kali yang aku hubungi saat kecalakaan tadi dan pikiranku pun tadi sedang kacau, karena aku kebingungan saudaraku aku hubungi engga ada yang di angkat teleponya? Karena aku berpikir kamu bisa menghubungi saudaraku di ruman sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih ya Bee?” Ucapnya sedikit manja dengan senyumnya yang indah sambil menahan rasa sakit di kakinya membuat hatiku bergetar tidak karuan. Ya Tuhan mungkinkah ini sebuah perasaan yang berbeda ataukah ini getar-getar cinta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Rentetan pertanyaan dalam benak dan hatisanungbariku tapi sudahlah, harus ku tempas semua banyangan dan pikiran-pikiran tentang cinta itu...
Aku tak ingin perasaan ini menguasai pikiran dan hatiku karena belum tentu sikap Yulia Yang baik kepadaku perasaanya sama seperti apa yang aku rasakan saat ini.
Dan akupun bergegas pergi setelah berpamitan dari tempat tinggalnya Yulia sahabatku dengan perasaan yang masih galau karena munculnya bunga-bunga cinta dihatiku.
Selang beberapa hari setelah kejadian kecelakaan sahabatku aku kembali datang menjenguknya dengan sebuah harapan dan keberanian. Sanggupkah aku ungkapkan perasaan ini kapada sahabatku atau harus aku tahan ungkapan perasaan ini dan akan jadi sebuah kegalauwan dihatiku selamanya.
Tapi kalau memang ungkapan perasaan cintaku berbalas maukah dia menerimaku apa adanya tapi sudahlah aku simpan dulu perasaan ini yang penting aku pengen ingin melihat kondisi Yulia yang sedang sakit saat ini bagaimanakah kondisinya sekarang itu yang paling penting.
Pagi itu sekitar jam 08.30 aku telah tiba di rumah sahabat baiku namun rumahnya terlihat sepi hanya terlihat se seorang wanita sedang menyapu di teras rumah itu.
“Assalamualaikum,” salamku kepada wanita tersebut.
“Walaikum salam”,balas wanita itu,”Cari siapa Mas?” Tanyanya kepadaku.
“Saya kawanya Yulia Bu?” Balasku dengan hormat kepada wanita tersebut.
“Oh Mari silahkan masuk Ka Yulianya ada di dalam?masuk aja Mas?” Balasnya sambil tersenyum.
“Iyah Bu terima kasih”,balasku lagi sambil menganggukan Kepala sambil hormat kepadanya.
Akupun lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang memang terlihat sepi.
Dan aku melihat Yulia sahabatku di atas kursi roda dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih sedang memengang sebuah ponsel sambil mendengarkan sebuah lagu Mp.3 yang berkumadang terdengan beberapa kalimat Yang biasa ku dengar karena memang sedang hit saat ini “oh Tuhan...Ku Cinta dia...Ku sayang Dia....” sangat menggetarkan hatiku lantunan lagu dari player music di ponsel nya dan tersenyum begitu melihat kedatanganku.
Senyuman yang selalu aku rindukan kala aku ingat kepadanya,”haloo...Yulia...?gimana keadaanmu?sudah mulai membaik kah?” Sapaku ramah dan mesra kepada sahabat baiku itu.
Dan Yuliapun berusaha ingin menyabut kedatanganku  ingin mendorong kursi rodanya tapi aku berusaha lebih cepat menghampirinya agar dia tak perlu mendekatiku.
“Alhamdulillah Bee...?Udah mendingan cuman kakiku masih bengkak dan masih terasa sakit ?”Jawabnya sambil menyambut kedatangnku.
“Sabar aja Yul..?namanya juga musibah kan siapapun engga ada yang mau seperti ini, ya kan”  balasku sambil berusaha menenangkan sahabatku agar tidak terlarut dalam kesedihan.
“Ini aku bawa kan Ice cream kesukaanmu Yul?” Sapaku lagi sambil aku keluarkan Ice cream yang aku bawa di kantong belanjaku yang isinya makanan ringan untuk cemilanya Yulia.
“Kamu kan paling suka makan ice dari dulu jaman kita sekolah hehehe...”sambungku lagi di sela-sela canda untuk mengurangi rasa grogiku dihadapanya. Maklum di samping sedikit grogi aku sedikit kikuk dihadapan Sababatku Yulia karena perasaan hatiku yang dirundung kegalauan? Karena pertanyaan bertubi-tubi dalam hatiku maukah dia menerima pernyataan perasaanku kepadanya, atau aku harus siap menerima sebuah jawaban yang tidak ingin aku harapkan?
“Ada apa Bee...?kamu memandangku seperti itu? Ada yang aneh kah...?” Tanya Yulia Sambil mengeryitkan dahinya memperhatikan sikapku seperti orang yang bingung.
“Ah..engga ada apa-apa Yul? Aku hanya sedih melihat kamu Yang biasa berkativitas terpaksa harus istirahat karena kecelakaan kemaren?” Jawabku sambil berusaha menutupi rasa galauku kepadanya.
“Iyah aku terpaksa harus ambil cuti sakit Bee dengan keadaanku ini?yah mau bagaimana lagi, jangankan untuk berangakat kerja aku dirumah aja ga bisa ngapa-ngapain harus dibantu oleh adik-adiku.” Balasnya dengan raut wajah yang terlihat sedih dan terlihat sedikit airmata terlihat di kedua kelopak matanya yang menbuat aku tak tega melihat kesedihan sahabatku itu.
“Sabar yah Yul segala sesuatu pasti ada hikmahnya tidak semata-mata Tuhan memberikan ujian diluarkemampuan kita dan pasti kamu akan mendapatkan pelajaran paling berharga dari kejadian ini Yang penting mau bersabar menjalani semuanya sayang? Eh maaf Kamu maksud aku hehehe...”. aku sedikit kaget Dan terkejut karena salah ucapkan kalimat “sayang” kapada sahabatku dan diapun kaget langsung mengarahkan pandanganya ke arahku dengan raut wajah yang tajam menatapku tidak berkedip membuatku sedikit malu sambil menundukan mukaku dihadapanya.
“Kamu bilang apa tadi Bee...?” Tanya sahabatku dengan tatapan sedikit melunak sambil tetap mengarahkan tatapanya kepadaku menunggu jababan balik dariku.
“Engga apa-apa Yul maaf aku salah ucap barusan?maksud aku kamu bukan sayang,” jawabku sedikit terbata karena malu begitu saja kalimat”sayang” terlontar dari mulutku tampa aku  sadari.
“Jujur Bee maksud kamu apa dengan uacapan panggilan sayang sama aku? Jujur aja Bee jangan kamu tutupi karena aku lebih suka kamu berkata jujur aku lebih senang mendengarnya?katakan aja sejujurnya maksud kamu apa dengan kalimat itu.” Untaian pertanyaan memberodong kepadaku dari Yulia sahabatku membuatku jadi kebingungan menjawabnya. “Oh Tuhan berikan aku kekuatan untuk sebuah keberanian menyatakan perasaan cintaku dan sayangku kepada dia orang yang aku sekian lama aku harapkan jadi kekasihku ini, permohonan isi hatiku ini kepada sang pencipta agar aku diberikan kekuatan dan keberanian.
Dengan kekuatan cinta yang aku miliki aku beranikan diri sambil membalas tatapan sahabatku Yulia untuk membalas beberapa pertanyaan yang dia tujukan kepadaku.
“Ok Yul aku Jujur sama kamu, tapi kamu akan marahkah kepadaku atau akan membenciku bila aku Jujur sama kamu?” balasku dengan pertanyaan balik kepada sahabatku Yang masih terlihat penasaran sambil menunggu jawaban ku.
“Engga lah Bee..? Apapun yang akan kamu katakan sama aku, aku engga akan marah apalagi sampai membencimu? Asal apa yang kamu katakan itu memang jujur apa adanya tampa ada Yang kamu tutup-tutupi Bee?” Ucap Yulia dengan sedikit senyuman sambil  berkata kepadaku.
“Baiklah Yul aku jujur sama kamu..., aku jujur aku suka dan sayang kamu Yul?” Sambil sedikit ragù dan malu aku beranikan diri untuk ungkapkan perasaanku sama sahabatku dan akupun sudah siap dengan jawaban dari sahabatku itu sekalipun pahit jawaban yang akan aku terima.
Dan setelah kunyatakan isi hatiku, kulihat Yulia diam tertegun dengan raut wajah sendu seperti ingin menangis membuang pandanganya dari pandanganku membuat aku sedikit kikuk dan dipenuhi banyak pertanyaan?marahkah dia dengan apa yang aku utarakan kepadanya atau tidak suka dengan apa yang aku sampaikan itu.
“Kenapa Yul kamu tidak suka dengan apa yang aku sampaikan tadi, kenapa kamu ingin menangis Yul...?jawab Yul? Aku minta maaf kalo apa Yang aku sampaikan menyinggung perasaanmu, sekali lagi aku minta maaf Yul? Dan sekiranya kamu tidak berkenan kamu engga perlu menjawabnya Yul?” Ucapku lirih dibarengi detak jatungku menjadi tidak teratur, aku takut dia tersinggung dengan apa yang aku utarakan tadi.
“Bee...? Aku sangat bahagia Bee dengan kejujuran kamu, sangat bahagia sekali Bee membuatku ingin menangis karena aku sangat bahagia mendengar apa yang kamu sampaikan sama aku? Tapi kamu lihat keadaanku Bee? Aku orang cacat sekarang Bee bukan lagi wanita Sempurna, aku engga mau kamu mencintai aku karena rasa kasian kepadaku karena keadaanku sekarang ini aku takut kamu menyesal dikemudian hari kamu mencintai aku Bee?” Yulia berkata sambil menitikan air matanya kasedihan melekat di wajahnya yang sendu membuatku terbawa perasaan sedih mendengar semua ucapanya dengan suara lirih dipenuh kesedihan.
“Yul Jujur aku mencintai kamu apa adanya bagaimanapun keadaan kamu, begitu juga aku berharap kamu mau menerima aku apa adanya pula hanya itu harapanku sama kamu sekalipun keadaanmu seperti sekarang ini tidak mengurangi rasa cinta yang ada dalam diriku kepadamu Yul dan ini Jujur aku katakan sama kamu dari hatiku yang paling dalam aku siap menerima kamu apa adanya? Itulah aku semua ini dari hati aku?”jujur sudah aku tumpahkan semua pergumulan perasaan pada Yulia sahabatku. 
Dan dia memandangiku dengan mata yang masih sendu aku ambil tisu dan aku basuh air mata di pipinya dengan rasa cintaku Yang dalam.
“Bee aku sangat bahagia Bee? Aku bingung harus membalas dengan apa semua kebaikan kamu dengan cinta kamu yang tulus ini?terima kasih banyak Bee, aku akan membalas cinta dan kasih sayang kamu setulus cintamu sama aku?” Dengan semyuman yang indah dan rona wajah penuh kebahagiaan Yulia aku mendekat kepadanya aku beranikan diri untuk memeluknya dengan erat dengan penuh kasih dan cinta diapun membalas pelukanku.
Kami berpelukan mesra menumpahkan semua perasaan kami untuk sebuah janji dari hati.

Penulis : Surip Santoso