Ketua Yayasan Menolak Berikan Ijazah, 4 Siswa Gakin SMK CP Kecewa

Ketua Yayasan Menolak Berikan Ijazah, 4 Siswa Gakin SMK CP Kecewa

​​​​​​

BOGOR- Mimpi empat siswa siswi pra sejahtera alumni SMK CP di Jalan Raya Cibeuruem, Gang Kabayan, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, yang ijazahnya masih ditahan pihak sekolah yakni Siti Fadilah, Devi Permatasari, Sanjaya Saputra dan Yahya Supriatna dipatahkan kebijakan ketua yayasan sekolah tersebut.

Sebab, Ketua Yayasan Cerdas Insani Batu Tulis yang menaungi SMK CP, Soni Arfan secara lugas menyampaikan kepada orangtua Siti Fadilah, pihaknya tak akan mengeluarkan ijazah empat siswa tersebut meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui DPRD Kota Bogor nantinya memberikan bantuan untuk melunasi tunggakan SPP dari dana APBD.

“Tidak bisa! Dan, sekolah ini tidak ada urusan dengan fraksi dewan atau partai. Bantuan dari dana APBD untuk siswa tersebut masing-masing Rp 3 juta. Jadi, kalau ijazah akan diambil total tunggakan harus segera dilunasi,” tandas ketua yayasan tersebut kepada orangtua siswa Siti Fadilah, Sanjaya Saputra saat didampingi Octa di sekolahnya, Rabu (7/10/2020).

Dia melanjutkan, jika ijazah tersebut diberikan kepada siswa yang sudah lulus dari sekolah tersebut, maka pihak sekolah sebutnya akan merugi.

“Sebelumnya, kami sudah diinformasikan dari Dinas Pendidikan, juga DPRD Kota Bogor terkait bantuan siswa alumni yang menunggak bayaran dan ijazahnya masih ditahan akan disalurkan bantuan untuk melunasi SPP.

Nantinya, masing-masing siswa, mendapatkan bantuan uang untuk penyelesaian tunggakan senilai Rp3 juta. Tapi, bagaimana pun juga tunggakannya siswa lulusan sekolah ini masih ada sisa dan itu harus segera dituntaskan. Tidak ada lagi kebijakan.

Dan, kami tidak ada urusan dengan fraksi dewan, atau partai atau disdik di Kota Bogor. Karena, saat ini SMK atau SMA kebijakannya bukan lagi di Pemkot Bogor. Tapi di Pemprov Jabar,” ujarnya.

Setelah mendapat keterangan tersebut, orangtua Siti Fadilah, Nurjanah dan alumnus SMK CP, Sanjaya yang ijazahnya masih ditahan memutuskan pulang dan memilih mengalah tak melanjutkan debat dengan ketua yayasan tersebut.

Sebab, jika bantuan disalurkan ke pihak sekolah, ia dan tiga siswa lainnya juga bakal tak bisa mendapatkan ijazahnya karena pihak sekolah SMK CP ngotot untuk melunasi pembayaran. Namun, Sanjaya mengaku merasa ada yang janggal.

“Saat saya menanyakan kepada petugas sebelum Ketua Yayasan CP datang, disampaikan tunggakan SPP saya mencapai Rp7 juta. Tapi, perasaan tunggakan saya tak mencapai nilai tersebut. Setahu saya tunggakan saya, hanya Rp3.9 juta.

Kalau saya harus membayar sampai Rp7 juta saat ini, uang darimana? Untuk diketahui, saya dan 3 siswa alumni SMK CP, masing-masing akan mendapat bantuan Rp3 juta yang nantinya langsung diberikan ke sekolah untuk melunasi tunggakan SPP.

Tapi saya kaget, saat ke sekolah kok disampaikan tunggakan saya jadi bengkak mencapai Rp7 juta. Hal itu juga terjadi di teman saya yang menunggak SPP dan ijazahnya masih ditahan,” tuturnya dengan mimik muka sedih diamini Nurjanah, orangtua Siti Fadilah.

Terpisah, Kepala Sub Perencana dan Pelaporan Disdik Kota Bogor, Jajang Koswara saat dikonfirmasi membenarkan, sebelumnya ada banyak siswa di SMA atau SMK tersebar di Kota Bogor yang ijazahnya masih ditahan karena SPP tertunggak.

“Sebelumnya, DPRD Kota Bogor sampaikan ajuan agar siswa gakin tersebut bisa dibantu menggunakan dana APBD Kota Bogor. Disdik Kota Bogor Bogor melakukan verifikasi.

Nantinya, untuk bantuan dana melalui ajuan ke walikota dan ditembuskan ke kesra baru diberikan bantuan. Masing-masing siswa yang ijazahnya masih ditahan, mendapat bantuan maksimal Rp3 juta.

Jadi, kalau ada tunggakan diatas itu, tinggal dilakukan komunikasi saja antara orangtua siswa dengan pihak sekolah,” tuntasnya. (*)

Nesto