Memasuki Setahun, Pancakarsa Jangan Sampai Jadi Program Mimpi Disiang Bolong

Memasuki Setahun, Pancakarsa Jangan Sampai Jadi Program Mimpi Disiang Bolong

Penulis: Heri Gunawan

( Aktivis Juga Warga Pamijahan)

Jelang memasuki waktu satu tahun kepemimpinan Bupati Bogor Ade Yasin dan Iwan Setiawan kinerjanya masih jauh dari yang diharapkan. Program Pancakarsa yang digulirkan dan visi menuju Kabupaten Bogor Termaju, ibarat sebatas mimpi disiang bolong.

Musababnya, program Pancakarsa yang digaungkan, yaitu karsa Bogor Cerdas, Bogor Sehat, Bogor Maju, Bogor Membangun dan Bogor Berkeadaban, masih belum menyentuh persoalaan yang berlangsung ditengah masyarakat.

Jadi jangan dulu bicara perubahan nyata. Meskipun hampir genap 1 tahun. Kepemimpinan Ade Yasin dan Iwan Setiawan kinerjanya belum dapat memberikan gebrakan dahsyat untuk memberikan jawaban atas harapan masyarakat di Kabupaten Bogor.

Itu semua ditunjukkan dengan fakta di lapangan bahwa masih banyaknya persoalan-persoalan yang ada belum dapat terurai, salah satunya ialah soal hilir mudik armada truk pengangkut dijalur tambang yang telah meresahkan warga.

Bahkan belakangan ini sering terjadi kecelakaan yang menewaskan warga pengendara motor dijalur tambang tersebut. Peristiwa itu pun memunculkan kemirisan ditengah ketidak mampuan pemerintah daerah yang tak bisa menciptalan solusi.

Hingga aktivitas kendaraan truk-truk dijalur tambang masi hilir mudik sampai sekarang. Ancaman terus mengintai keselamatan pengendara roda dua maupun warga disepanjang jalur tambang yang dipaksa menghirup udara bercampur debu.

Namun rasanya dengan aktivitas mobil truk yang lalu lalang diperlintasan jalur tambang, sepertinya hanya menguntungkan penguasa (pemkab) dan pengusaha (korporasi). Dengan mengenyampingkab hak dasar masyarakat untuk hidup nyaman, sehat, dan tidak dihantui oleh kematian saat berkendara.

Pasalnya, dengan hilir mudiknya armada mobil pengangkut hasil pertambangan itu, dapat berdampak langsung kepada lingkungan masyarakat. Terutama mengganggu aktivitas belajar mengajar disekolah yang berlokasi disekitar jalur tambang.

Juga tak heran jika ditemukan kasus warga yang terindap buruknya saluran pernafasan. Lantaran udara disepanjang jalur tambang tercemari debu-debu. Itu disebabkan volume tonase melebihi kapasitas bobot muatan.

Volume kendaraan truk tambang yang jumlahnya tidak sedikit itu pun membuat kemacetan panjang, ada salah satu kejadian yang miris sekali ketika seorang ibu hamil mau ke rumah sakit akibat kemacetan yang panjang hingga ganti kendaraan. 

Terakhir yang paling krusial adalah akibat aktivitas hilir mudik truk tambang telah banyak menelan korban nyawa setiap bulannya, tragedi kematian lakalantas seakan menjadi lumrah dan terkesan nyawa tidak ada harganya.

Terlebih kebanyakan korban lakalantas adalah anak sekolah yang seharusnya menjadi generasi penerus peradaban bangsa ini. Rasanya miris melihat berulang-ulang terjadi, dan risih mendengarnya seakan tidak ada niatan yang serius dari pemerintah kabupaten Bogor khususnya bupati untuk menyelesaikan persoalan aktivitas hilir mudik truk tambang.

Pasalnya telah ada peraturan bupati (perbup) tentang jam tangan angkutan tambang, itu pun ditunda yang terkesan asal-asalan/mandul dan sampai saat ini belum ada tindak lanjut. Saya harap pemerintah kabupaten Bogor harus serius dan segera menyelesaikan persoalan ini dengan formulasi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang (permanen).

Sekali lagi jangan sampai terpikir ini semua dampak dari kepentingan Penguasa dan Pengusaha sehingga lagi-lagi masyarakat yang jadi korban.