Menguak Jejak Guru Bangsa di Gunung Salak, Eyang Santri Dalam Catatan Buku Pengantar Kemerdekaan Melaui Muridnya ?

Menguak Jejak Guru Bangsa di Gunung Salak, Eyang Santri Dalam Catatan Buku Pengantar Kemerdekaan Melaui Muridnya ?

Sukabumi- Gunung Salak Halimun, Sukabumi, Jawa Barat, memiliki keindahan bentang alam yang memposana. di Kawasan Gunung yang terletak diperbatasan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor tersebut, juga terdapat destinasi alam menarik, mulai dari lokasi air terjun, perbukitan yang hijau, hutan rindang damar dan keberadaan situs.

Selain memiliki estetika alam elok yang kental dengan nuansa mistis. Gunung Salak Halimun juga memiliki tabir misteri bernilai sejarah yang terbungkus kabut tebal. Bahkan warga setempat meyakini jika dulu kala, tokoh-tokoh pergerakan perjuangan bangsa seperti Ir. Soekarno, Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin dan lainya pernah menginjakkan kaki di Gunung Salak.

Adalah Eyang Santri, nama tokoh yang hidup dimasa penjajahan itu amat sohor hingga kini ditengah masyarakat, terutama di Tatar Pasundan, Jawa Barat, yang memiliki kaitan erat dengan keberadaan tokoh-tokoh perjuangan bangsa dan sejarah Perang Pangeran Diponogoro atau lebih dikenal perang Jawa.

Tim jelajah fajarbogor.com terdiri dari Indra Surkana, Ustadz Muzi, Asep Rendra, Wisnu Yogaswara dan UG, pun melakukan penelusuran untuk menguak tabir misteri sejarah di Gunung Salak. Dari penuturan cucu mendiang Eyang Santri, yakni Raden Ayu Hj.Ahdiyati itu lah, terkuak tabir bernuansa sejarah yang diselimuti kabut Gunung Salak.

Di teras Padepokan Giri Jaya yang berlokasi di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut (mdpl) Gunung Salak, tepatnya Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Raden Ayu Hj. Ahdiyati atau akrab disapa Hj.Tito menuturkan riwayat sepak terjang sang kakek yang dinilainya layak menyandang gelar pahlawan perintis kemerdekaan.

"Jadi Eyang (Eyang Santri,red) perintis kemerdekan melalui murid-muridnya. Mohon doanya semoga pemerintah menganugerahi Eyang gelar pahlawan,"tutur Hj. Tito, Sabtu (19/09/2020).

Ibu tiga anak itu melanjutkan, Eyang Santri yang bernama asli KPH Djojokoesoemo bin KPH Praboewidjoyo bin KGPPA Mangkoenegoro. Sambung Dia, memiliki Trah Kerajaan Mataram dari jalur Mangkunegaran, atau keturunan dari Pangeran Samber Nyawa.

Kedatangannya ke Tanah Pasundan, sambung Hj Tito, lantaran saat itu sang Kakek "buron" dari kejaran tentara Belanda. Musababnya, Eyang Santri menyokong perang Pangeran Diponogoro yang dikenal dengan perang Jawa pada tahun 1825-1830 silam.

"Karena yang membantu perang Pangeran Diponogoro dihabiskan Belanda. Dan Eyang pencari dana, yang perangya adalah Pangeran Diponogoro, Eyang juga yang menghubungkan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono V,"sambungnya.

Sambil bertutur, Hj. Tito, membuka buku-buku yang mengabadikan silsilah, juga berkaitan dengan Eyang Santri pun nama temapat Giri Jaya. Buku-buku yang jadi refrensi dan kenang-kenangan itu antara lain, buku “Kenang-Kenangan Dokter Soetomo;” Editor: Paul W. van der Veur, “Nyi Hajar Dewantara;” karya Bambang Sokawati Dewantara, “Marilah Kehutan,” karya R.Supardi, dan “Geschiedenis der Ondernemingen van het Mangkoenagorosche Rijk;” karya R.M. Mr A. K. Pringgodigdo.

Selain buku-buku terbitan, terdapat buku sinopsis untuk disertasi doktoral UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017), oleh Ali Machfudon Abdillah, berjudul: “Penafsiran Kyai Muhammad Santri Terhadap Martabat Tujuh.” diperlihatkan beberapa kopian buku tulisan tangan berhuruf dan berbahasa Arab, berbahasa Jawa berhuruf Arab Pegon, berhuruf Jawa, serta berhuruf latin.

"Saya tidak bicara katanya-katanya. Namun berdasarkan buku,"tegasnya.

Kemudian Hj. Tito, menukil tulisan dalam buku berjudul Ki Hajar Dewantoro dari penerbit Gunung Agung dengan penulis BS Dewantoro, anak Ki Hajar Dewantara. Dihalaman 20 disebutkan, KPH Djojokoesoemo alias Eyang santri yang telah menghilang selama 66 tahun ditemukan dengan nama Kyai Giri Jaya dari Gunung Salak.

"Pangeran Djojokoesoemo terdeteksi pada tahun 1896 sudah jadi Kyai Giri Jaya. Dalam pengembaraan Tri Dasara alias Pangeran Sastra Ningrat yang merupakan mertua dari Ki Hajar Dewantoro. Ditulis bahwa beliau menemukan dua sahabat ialah Kyai Giri Jaya di Gunung Salak,"terang Hj. Tito menyampaikan isi buku yang dibacanya.

Dari pertemuan itu lantas Eyang santri diundang untuk menghadiri perayaan penobatan putra mahkota Surakarta yang naik tahta sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono X. Di momen itulah Kyai Giri Jaya pertamakali muncul setelah menghilang paska perang Jawa pimpinan Pangeran Diponogoro.

"Suatu ketika putra mahkota Surakarta naik tahta sebagai Sri Susuhan Pakubuwono X. Maka Kyai Giri Jaya mendapatkan kehormatan utk menghadiri pesta upacara penobatan putra mahkota Surakarta. Jadi setelah 66 tahun menghilang Eyang Santri muncul 1869 di pajenengan Pakubuwono 10, yang mengaku Eyang Santri adalah gurunya,"tutur Hj. Tito yang masih membaca isi buku itu.

Jadi orang- orang yang berjumpa Eyang Santri, kata dia, menulis buku di era kerajaan. Untuk itu, Ibu Muryati Sudibyo Cucunya Pakubuwono X, sempat menyambangi Padepokan Girijaya untuk melihat-lihat buku tersebut. Dan penyiar TVRI pertama tahun 62 an yang anugerahi Panasonic Gober, Sus Salamun cucu ketiga Eyang Santri.

Selain buku berjudul Ki Hajar Dewantara yang ditemukan Hj. Tito, dikediaman orang tuanya yang tak jauh lokasinya ke bawah dari makam Eyang Santri depan rumah juru kunci makam yang sekarang, Abi Ya’qub. Dari beberapa tulisan dalam buku itu, di antaranya berisi tentang ilmu tauhid, fiqih, dan tashawuf. Namun demikian, belum dapat dipastikan apakah buku-buku itu tulisan tangan Eyang Santri atau bukan.

Hanya saja, Hj Tito Ahdiyati, mendapatkannya di rumah orang tuanya yang merupakan warisan dari sang kakek, yakni Eyang Santri. dari buku-buku tulisan tangan tersebut, dalam sinopsis desertatsi doktoral yang ditulis oleh Ali Machfudon Abdillah, menyebutnya sebagai “Naskah Girijaya Eyang Santri.”  

Dalam telaahnya, pada Bab III, item C, Naskah Girijaya itu meliputi: Fath Al-Rahman, Al Tuhfah al-Mursalah, Bahr al-Lahut, Bayan Allah, Nur al-Daqaiq, Ma’rifat al-Din, Kitab Mati Hakiki, Bayan Alif, Kutipan Kalam Hikmah, Syarah Martabat Tujuh, dan Simbol Filosofis Martabat Tujuh.

Sebelum menetap di lereng Gunung Salak, Kyai Giri Jaya sempat berpindah-pindah tempat. Eyang Santri di lereng gunung yang tinggi itu, belakangan juga diketahui oleh para kaum pergerakan, baik dari bangsa pribumi atau pun dari kalangan intelektual Belanda sendiri, semisal Douwes Dekker.

Hj Tito Ahdiyati juga menyebut beberapa nama penting dalam sejarah pergerakan Indonesia, seperti Ir Soekarno, H.O.S. Tjokroaminoto, Dr Soetomo, Sosro Kartono, Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin. Bahkan tokoh spiritual dan filosof India, Rabindranath Tagore, pernah berinteraksi dengan Eyang Santri.

Dalam buku “Kenang-Kenangan Dokter Soetomo,” Paul W. van der Veur, menuturkan, Kiai Santri yang saat itu sudah sepuh, kerap didatangi teosofis Belanda dan kaum pergerakan. Pada halaman 169 dan seterusnya, antara lain, Paul mengisahkan:

“Pun Tuan D. van Hinloopen Labberton dan Ing. Meyl, keduanya kaum teosofie memperdekatkan dirinya, sehingga adakalanya saya dan teman-teman bersama-sama menghadap pada Kiai Santri, beginilah sebutan Tuan itu, menurut teman-teman kita yang besar pengaruhnya itu.

Situ dapatlah diketahui yang adalah beberapa Bupati dari bagian barat yang meminta advis padanya, bagaimanakah seharusnya mereka itu bersikap terhadap pergerakannya anak-anak muda itu. Paul menuturkan, bahwa Kiai Santri adalah tokoh yang dihormati dan kerap dimintai pendapat serta restunya oleh banyak kalangan, mulai dari kaum santri, pejabat (ambtenar) sampai kaum pergerakan dari berbagai wilayah termasuk dari Batavia.

Sehingga, walau keberadaan Kiai Santri jauh dari penduduk, namun menjadi salah satu pusat untuk mencari informasi tentang berbagai hal, bagi Paul dan rekan-rekannya. bagian lain Paul mengisahkan kaitannya Eyang Santri dengan Boedi Oetomo. Ia menulis:

“Pada malam itu juga pertanyaan dan permintaan timbangan dari beberapa Bupati, bagaimana sikap yang seharusnya diambil terhadap perkumpulan Boedi Oetomo yang mengguncangkan dunia kita itu.”

Mengenai Eyang Santri, sebelumnya juga pernah dikupas oleh situs NU Online (26/9/2017) yang disebutkan sebagai upaya peningkatan mutu dan pengembangan penelitian tesis Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta. Dalam rangka ini, Unusia menyelenggarakan Program Visitasi Dosen ke lokasi penelitian mahasiswa.

Dijelaskan, salah satu dosen pembimbing tesis, Deny Hamdani, mengunjungi aktivitas penelitian salah satu mahasiswa pascasarjana yang sedang meneliti budaya masyarakat Nusantara, pada Kamis (21/9/2017) lalu di Padepokan Girijaya, Sukabumi, yakni di salah satu situs Eyang Santri di lereng Gunung Salak.

Kunjungannya itu, Hamdani yang juga menemui Hj Tito Ahdiyati, mengungkapkan: “Interaksi Eyang Santri dengan kaum intelektual zaman kemerdekaan dan kontribusinya terhadap pembentukan Indonesia modern perlu kita dorong untuk diteliti lebih lanjut.

” Dari semua uraian di atas dapat diserhanakan, bahwa Eyang Santri adalah bangsawan Mataram yang terut berjuang bersama Pangeran Diponogoro lalu menyepi di lereng Gunung Salak, Sukabumi. Sesuai data yang ada, beliau adalah ulama tashawuf dari Tarekat Syattariyah. Dalam perjalanan hidupnya, telah banyak memberikan kontribusi positif bagi kaum pergerakan pra kemerdekaan.

Maka tak heran, jika dalam sinopsis disertasi doktoralnya, Ali Machfudon Abdillah, menyimpulkan: “Ini merupakan fakta yang tersembunyi dan belum pernah terungkap dalam buku sejarah. Karena itu, sudah selayaknya Kiai Santri diusulkan memperoleh penghormatan sebagai Pahlawan Nasional karena kegigihannya melawan penjajah dan membina tokoh-tokoh pergerakan dan perjuangan Indonesia.”tulis Padasuka.com.

Kemudian Hj Tito menyampaikan, KPH Djojokoesoemo lahir pada 1770 wafat 1929 M, dalam usia 159 tahun -ada juga yang menulis lahir 1771. Sedangkan Ibu Hj Tito Ahdiyati adalah putri dari RM Soeparman Djojokoesoemo, satu-satunya putra lelaki Eyang Santri. Keterangan jalur nasab tersebut ditunjukkan pula dengan bukti lembaran silsilah Raja-raja Mataram,"tukasnya.

Eyang sendiri memiliki dua istri, dari pernikahan pertamanya dengan seorang perempuan asal Kampung Pasir Jaya, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak dikarunia keturunan. Lalu beliau menikah lagi dengan seorang perempuan asal Bogor dan memiliki buah hati.

Editor : Asep Saprudin