Pamong Budaya Apresiasi Disbudpar Revitalisasi Kesenian Blantek (Bag- 1)

Pamong Budaya Apresiasi Disbudpar Revitalisasi Kesenian Blantek (Bag- 1)

Bogor- Ranah Bogor menjadi salah satu tanah legenda yang memiliki ragam sejarah dengan peninggalan seni budaya, yang mewarnai kesenian tanah air. Sayangnya seiring waktu berproses, terdapat nilai- nilai luhur kearifan lokal mengalami degradasi.

Sehingga warisan seni budaya yang diwariskan oleh leluhur tergeser oleh laju peradaban zaman diera digital. Bentuk perhatian dalam melestarikan kelangsungan seni budaya lokal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Bogor berupaya melakukan revitalisasi seni budaya dengan menyentuh kesenian Blantek di Desa Waru, Kecamatan Parung.

Seni tari yang berkolaborasi dengan lenong itu pun disinyalir telah ada ratusan tahun silam, bahkan dugaan kuat sebelum bangsa penjajah datang ke nusantara. Berkesempatan mengunjungi lokasi sanggar Blantek, ketika memenuhi undangan beberapa budayawan di Kawasan Parung. Maka awak media online ini berkesempatan berbincang dengan keluarga pelestari kesenian blantek.

"Saya ini generasi ke 4. Jadi kesenian blantek ini turun temurun dari keluarga. Kalau sekarang dibawah pimpinan engkong saya,"ungkap Mukri (42) seniman Blantek saat ditemui di sanggar Kesenian Blantek di Kampung Waru, Desa Waru, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Minggu (26/5).

Mukri mengaku tidak tahu persis mulai adanya kesenian blantek. Namun yang ia ketahui bahwa kesenian itu kerap diwarisi anak cucu keluarganya. Bahkan dirinya pun mendalami seni itu sejak kecil.

"Bagi keluarga saya sudah mendarah daging. Karena kalau bukan kita siapa lagi coba. Engkong udah tua, jadi yang muda harus menjaganya agar terap eksis,"kata Mukri dengan nada semangat.

Kemudian dijelaskannya, awal mula nama kesenian blantek yang menyerupai budaya Betawi gambang kromong itu, bermula dari nama alat pelengkap yang menjadi pengiring yaitu rebana bian dan tek, jadilah disebut blantek. Lalu ditambahkan alat musik lainnya seperti gebyung dan tehiyan (alat musik gesek dari Cina).

"Kesenian blantek itu cikal bakal gambang kromong atau lenong Betawi karena ada permainan musik, seni peranm dan seni tari. Kami juga melibatkan sejarahwan agar cerita-cerita yang diangkat nanti memuat sejarah Bogor dan Betawi ora (pinggiran)," tambah Ki Bambang Sumantri Ketua Pamong Budaya Bogor yang turut hadir beserta Ki Kiwong dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi PB NU).

Ki Bambang pun mengapresiasi langkah konkrit pemerintah daerah melalui Disbudpar yang melakukan revitalisasi senibudaya blantek. "Semoga langkah ini awal untuk menyentuha kesenian lainya,"ujarnya.

Ki Kiwong dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi PB NU) mengaku cukup kesulitan merevitalisasi kesenian blantek ini karena pelaku seninya yang rata-rata berusia uzur.

"Kami cukup kesulitan dalam menggali lebih dalam kesenian yang termasuk purba atau lebih tua dari gambang kromong karena pelaku kesenian blantek hanya mengikuti ajaran ayah atau kakeknya tanpa disertai pakem. Untuk melengkapi apa itu kesenian blantek kami harus mencari kelompok lainnya baik di Kabupaten Bogor, Kota Depok maupun Tanggerang karena ada kemungkinan kesenian blantek ini berkembang ke daerah sekitar Parung," tukas Ki Kiwong.

Bahkan sambungnya, tidak menutup kemungkinan jika kesenian blantek itu sudah ada sebelum masa penjajahan. Hal itu pun, kata dia, bila mengamati alat musik perkusi (alat musik dipukul,red) yang menjadi pengiring blantek.

"Dan itu butuh penelusuran. Sebab, alat musik perkusi itu identik dengan masa silam, mungkin juga sebelum penjajah masuk,"tukasnya.

Asep Saprudin