Pamor 'Tjipetir' Tempo Dulu Mendunia, Hutan Gutta Percha Sukabumi Alami Penyusutan

Pamor 'Tjipetir' Tempo Dulu Mendunia, Hutan Gutta Percha Sukabumi Alami Penyusutan

 

Sukabumi- Di tengah hamparan hijau daun pohon kelapa sawit yang tumbuh diatas lahan PTPN VIII, Kawasan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terdapat tumbuhan keras berusia seratus tahun lebih. Yang keberadannya kini mulai menyusut. 

Tapi siapa sangka tempo dulu,   Pohon Percha yang ditanam oleh pihak Belanda pada tahun 1887 silam itu, getahnya memiliki pamor hingga mendunia.

Adalah pabrik produksi pengolah daun pohon Percha 'Tjipetir' yang berdiri pada tahun 1825 di Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, menjadi satu-satunya tempat produksi pengolahan bahan baku karet di negeri ini.

Kualitasnya pun prima hingga bahan baku untuk pembuatan bola golf, kabel bawah tanah, gigi palsu dan lainya menembus pasar dunia.

"Kalau sekarang jarang produksi, kecuali ada pesanan. Itu pun jarang-jarang. Mungkin karena persaingan kali ya. Sekarang pun karyawan tinggal sisa enam orang,"ungkap Dadun, salah seorang karyawan dilokasi pabrik pengolahan getah Percha, Rabu (16/9/2020).

Pabrik peninggalan Belanda yang dulu dikenal tempat industri penghasil pengolahan bahan baku karet yang memiliki pamor mendunia tersebut, kini terancam bangkrut. Dadun menjelaskan, kondisi itu imbas dari sepinya order pasar hingga berdampak pada volume produksi. Ke adaan itu pun sudah berlangsung lama.

"Ya, beginilah sekarang ke adaanya. Berbeda dengan 10 tahun silam masih terbilang lumayan."ujar Dadun.

Kemudian Dadun menjelaskan, bahan baku karet yang sempat jadi primadona di pasar Eropa dan negara lainya itu, kata dia, hasil dari pengolahan daun pohon Perca dari hutan Gutta Perca, Cikidang. Ditambahkannya, bobot volume bahan produksi akan mengalami penyusutan drastis setelah diolah menjadi karet.

"Dari dua ton daun yang di produksi untuk serapan getahnya. Cuma menghasilkan dua kilo gram setelah masuk mesin pengolahan,"terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Cicareuh Ramdan menambahkan, luas lahan hutan Gutta Perca mengalami penyusutan akibat adanya praktek penebangan hingga terjadi alih fungsi lahan perusahaan plat merah, kini banyak di garap oleh masyarakat.

"Kondisi itu terjadi hampir tiap tahun. Mungkin sekarang hutan Gutta Percha, atau warga sini menyebut hutan pohon karet oblong, luasnya tinggal 50 hektaran,"tambahnya.

Kades berusia 28 tahun itu berharap, keberadaan hutan Gutta Perca dapat di lestarikan, sekaligus dimanfaatkan potensinya untuk mendongkrak perekonomian masyarakat Desa Cicareuh. 

Bahkan Ramdan menilai, hutan Gutta Percha dapat menjadi aset wisata bernilaikan sejarah.

"Kami sedang berusaha dengan mengajukan permohonan ke pihak-pihak terkait. Termasuk untuk rencana pembangunan lokasi rase area dan tempat sentra ekonomi berbasis ke arifan lokal," pungkasnya.

Asep Saprudin