Penuturan Kisah Penuh Misteri Pendaki Nekat di Kawah Ratu (Bag- 1)

Penuturan Kisah Penuh Misteri Pendaki Nekat di Kawah Ratu (Bag- 1)

(Foto/Net: Ilsustrasi)

TAHUN 1998 SILAM. Sebuah kenangan yang diselimuti kemisteriusan dan menjadi teka-teki alam yang masih melekat dalam ingatan saya. Namun demikian, saya menyimpulkan bahwa itu adalah salah satu kuasa tuhan, agar kami tetap selalu mengingatnya.

Dan peristiwa di Kawah Ratu itu, akan menjadi bekal cerita bagi anak cucu saya. Mungkin bagi teman-teman alumni SMA BCI 2000 Ciherang Pondok, Bogor, angkatan pertama akan kembali tergugah ingatannya kalau membaca cerita ini. Dan salam hangat serta rindu buat guru-guru tercinta wabil khusus Pak Ade Eka Sastra.

Persis saya masih ingat kala itu kelas 2 SMA, sebut saja nama saya Omen, begitu dulu teman sekelas menyapa Saya. Hampir sekelas teman-teman amat menyukai aktivitas camping. Yang namanya Gunung Salak dan Gunung Gede kerap jadi tempat menginap disaat kami libur. Meski begitu kami bukanlah pendaki handal, cuma berbekal nekat saja.

Tibalah saatnya kami bersepakat untuk kamping di Kawah Ratu. Hampir semua teman sekelas ikut serta, termasuk beberpa guru. Saya masih ingat rencanya kami mau menginap dua hari dan berangkat pada hari Jum'at. Namun untuk tanggal saya lupa, maklum sudah lama sekali. Kawah Ratu, kala itu sangat indah. Batuan cadas dan kepulan asap dengan aroma bau belerang masih diingat. Saat itu kami pun larut bermain dengan air yang bersuhu rada panas.

Bahkan sebagian teman-teman ada yang melumuri tubuhnya dengan belerang, katanya sih "untuk menghilangkan penyakit kulit". Singkatnya, tibalah sore menjelang malam. Sesuai intruksi Bapak Guru, kami agar mendirikan tenda yang lokasinya tidak jauh dari area pemandian Kawah Ratu, ya kalau jalan kaki sekitar 15 menitan dari kawah.

Sekitar lima tenda berdiri diarea lahan terbuka yang dikelilingi rindangnya pepohonan besar. Lokasi tenda kami terpisah dengan tenda guru-guru. Oh iya, perkenalkan nama Bapak Guru SMA yang ikut ialah Pak Ade, Pak Abror dan dua guru lagi dari SMEA BCI yang saya lupa, tapi tetap saya hormati. Api anggun pun berkobar menerangi area perkemahan kami.

Kami pun larut dalam keindahan alam Kawah Ratu jelang malam. Suara lutung dan satwa lainya menjadi pelengkap keindahan di alam bebas. Apalagi saat itu bintang dilangit bermunculan."Bagusnya malam ini tidak ada kabut ya, tolong jangan terlalu urak-urakan dan jaga bicara jangan sompral. Ini di gunung loh,"kata Pak Ade mengingatkan saat kami tengah menikmati kehangatan api unggun.

Maklum waktu itu dinginnya tidak ketulungan, rokok dan kopi pun dijadikan pelampiasan untuk mengusir cuaca dingin. Guru-guru kami pun kembali ke tendanya, agak jauh dari lokasi tenda kami. Terlihat saat itu teman-teman perempuan yang ikut turut menikmati kehangatan api unggun. Waktu pun berangsur menuju tengah malam. Rangaian agenda kegiatan pun dilaksanakan.

Tibalah pada acara dendang lagu bersama yang diiringi petikan gitar. Kian malam langit mulai gelap. Satu persatu bintang tertutup awan hitam, namun diatas pepohonan rindang nampak cahaya-cahaya yang menyerupai bohlam berkelap kelip"mungkin bintang mulai jatuh kesini ikutan senang,"celetuk Muri kawan kami dengan logat Betawinya, kebetulan dia dia dibesarkan di Jakarta.

Ditengah euforia kami, tiba tiba datang sambaran petir sampai-sampai membengkan telinga yang disusul dengan turunnya gerimis lalu hujan deras. Seketika lokasi tempat kami bermalam menjadi gelap gulita. Api unggun yang semula menyala pun mati disirami air hujan. Saya pun mengingatkan agar teman perempuan yang berjumlah 13 orang untuk masuk ketenda khusus wanita.

Begitu juga teman laki-laki, saya lupa lagi berapa jumlahnya karena ada adik kelas juga."Woii si VT (Inisial khawatir yang berkaitan tersinggung) kenapa, kaya kesurupan mau kabur. Coba ana laki-laki bantuin,"suara teriakan itu datang dari tenda perempuan yang jaraknya kurang lebih tujuh langkah dari tenda lak-laki.

Dibawah rinai hujan, saya dengan beberapa teman, masih ingat saat itu, Asep Dongkrak, Muis, Romo, Jimi, Herdi Otong dan beberapa adik kelas termasuk Lakis menghampiri tenda perempuan. Benar saja, VT tengah dikendalikan oleh teman-teman dalam tenda. Sialnya, lentera yang redup mati gara gara jatuh kesenggol badan VT. Seketika VT pun berontak dan keluar tenda hendak berlari.

Namun dengan cekatan Romo pun loncat berusaha menangkap tubuh VT. Bukannya lumpuh, VT malah berontak sampai-sampai tenaga lima orang laki-laku, termasuk Saya, hampir kewalahan melawan tenaganya,"Lepaskeun Aing Hayang Mandi Ka Kawah Embung di Dieu, (Lepaskan Saya Ingin Mandi di Kawah. Enggak mau disini),"jerit VT sambil tubuhnya meronta-ronta.

Bulu kuduk saya merinding, juga sama dirasakan teman lainya yang basah kuyup oleh air hujan. Alhamdulillah, setelah berulang-ulang membaca ayat kursi, tiba-tiba tubuh VT melemah. Saat itu, kondisi VT hanya terbaring, entah tidur atau pingsan yang terpenting dia diam.

Belum hilang lelah kami, tiba-tiba cewek-cewek yang menempati tenda sebelah  berteriak. Saat dihampiri mereka katanya melihat sesosok nenek renta berjalan melintas  di belakang tenda "Emhh masa iya digunung ada nenek-nenek,"celetuk saya. "Jangan-jangan ada makhluk lain ikutan camping sama kite,"seloroh Muri menimpali.

"Ait, kalau ngomong jangan sembarangan. Lebih baik kita berdoa saja, soalnya suasananya beda,"kata Jimi ikut menimpali dengan mulut menggigil diserang dingin.Pas saya mau ikut menyahuti, ada hujan tak ada angin tiba-tiba saja tenda penyimpan logistik yang berdiri koko ambruk.

Bagusnya lampu lentera dalam tenda mati. Belum habis rasa keget lantaran tenda roboh, sejurus kemudian muncul cahaya menyerupai sorotan lampu mobil dibalik semak-semak pohon yang diperkirakan berjarak 20 langkah kaki ditempat kami berkemah.

Seketika yang didalam tenda pun keluar, kecuali yang tengah menjaga VT. Nampak semua baju teman-teman basah kuyuk. Mulutnya menggigil, beberapa cewek-cewek ada yang menangis ketakutan"Gua pengen pulang takut,"isak Mei murid kelas 2 yang sebangku dengan Yuyun, tengah berpelukan dengan teman lainnya yang mungkin juga diselimuti takut. "Cepetan ih lapor ke Pak Ade,"perintah Ika mengingatkan.

Asal tahu aja untuk mendatangi lokasi tenda guru harus melewati anak sungai dan turunan curam. Jadi kami pun berpikir ulang untuk meminta bantuan kepada guru, ya jujur aja selain licin, gelap juga kami dihantui rasa takut.

Lalu saya menanyakan jam. Tapi menunjukan jawabanya penuh keganjilan?. Karena dari lima orang yang mengenakan jam tangan jawabanya berbeda. Misalkan Hendrik menjawab jam 11. Lalu Iis mengatakan pukul 12. Kemudian Ika menyampaikan jam 1.30. Begitu juga jawaban lainya berbeda.

"Ya sudah kena air hujan jadi pada rusak itu jam,"jawabku menenangkan suasana.

Hujan pun mulai mereda. Perapian susah dinyalakan hanya berbekal 5 senter kami berusaha menghemat penerangan.Sialnya, korek api basah tidak bisa digunakan, begitu pun kompor gas kecil.

Kami pun sepakat, agar semua cewek disatukan dalam satu tenda bersama cowok. Karena kami berpiki  tidak mungkin ada prilaku mesum ditengah rasa takut bercampur bingung. Sisa tenda yang berdiri hanya dua, tiga diantaranya kami robohkan dan dijadikan alas untuk duduk.

Karena kami, laki-laki sepakat khususnya anak kelas 3 begadang sambil menunggu ke ajaiban datangnya pagi. Jujur saat itu kami  takut,  pengen cepat-cepat malam digantikan pagi. Bahkan sejumlah teman-teman mengaku melihat penampakan-penampakan yang ganjil.

Ditengah keheningan dan gigitan dingin  teramat sangat. Tiba-tiba kami yang berada diluar tenda kembali disuguhkan oleh sepasang sorot cahaya yang menyerupai lampu mobil dibalik semak-semak pepohonan.

Heran, takut dan penasaran menjadi campur aduk saat itu. Anehnya cahaya yang berlangsung kisaran 10 menit itu tidak bergeser dan diam dilokasi tersebut. Rupanya keanehan yang muncul belum berakir. Selang beberapa menit, semua orang mendengar suara petikan gitar yang merdu ditelinga.

Suara gitar itu datang dibalik tenda logistik yang roboh, disusul kemudian kembali jeritan-jeritan beberapa anak cewek terdengar.Sejurus kemudian sorot cahaya dibalik pepohan itu pun menghilang"Apa mungkin cahaya tadi mata harimau,"ujarku berguman dalam hati.

Lantaran suasana terasa pelik dan anak cewek berprilaku tidak normal, ada yang menangis, menjerit-jerit bahkan ada juga yang tertawa walau pun badan mereka dalam keadaan terbaring, akhirnya disepakati untuk melaksanakan shalat hajat guna meminta perolongan dan perlindungan Allah SWT.

"Sory, saya akan berdoa berdasarkan agama saya. Agar kita dilindungi dan diberikan pertolongan,"ucap Jimi, teman kami yang beragama Kristiani sambil mengepalkan kedua tangaannya didada dengan kepala menunduk. Bermunajat pun sudah dilaksanakan.

Saya kembali melihat keadaan VT yang kelihatah lelap, padahal semua orang bajunya kuyup, termasuk baju VT. Dingin pun seolah melebi dalam kulkas. Sampai sampai tangan saya tida merasakan sakit saat tanpa sengaja menggengam pisau, bahkan nyaris tidak mengeluarkan darah meski terasa perih.

Saya kembali bersyukur, karena beberapa teman  yang tadinya meronta-ronta berangsur membaik. Lalu saya pun berinisiatif mengajak Lakis untuk mendatangi tenda guru. Musababnya, ditengah rasa takut perut pun terasa lapar. Harapan saya kompor gas ditenda pak guru bisa digunakan.

Belum sampai kelokasi perkemahan guru kami. Tiba-tiba ditengah penerangan santer yang sudah memerah, saya dan Lakis bertemu sekelompok orang yang berpakian mirip pendaki gunung. Baik saya mau pun Lakis tidak begitu jelas melihat wajah-wajah mereka dibalik kegelapan.

."Assalamualaikum, barade kamana Akang-akang, jiga nu kasieunan. Mangga iyeu minyak sareng korek angge.Ken minyak mah balurken kana awak rerencanganna anu galering. Jeung ieu cai bisi aus. Nitip mung tos nepi ka tenda nu dituju, pas rek balik deui ulah ngalieuk ka arah gedong kolotnya. Sebab lain tingalieun akang-akang. Khususnya tiabdi pisan hormatna kangge Akang".

 (Assalamualaikum, mau kemana abang-abang, kaya ketakutan.Ini ada minyak buat temannya yang sakit. Dan ini air kalau buat diminum. Nitip saja kalau sudah sampai ke tenda gur, pas mau pulang lagu jangan menoleh ke arah gedung tua. Sebab bukan pemandangan bagi abang-abang. Terkhusus dari saya hormatnya buat abang,)"kira-kira kata itu yang masih terngiang bertahun-tahun ditelinga.

Lantas saya pun bertanya kepada makhluk misterius tersebut "Emang akang semua mau pada kemping juga. Udah gabung saja sama saya. Biar suasananya tambah ramai,"tanya saya sambil mengajak gabung.

"Makasih, saya mau ke kawah teman-teman kemping disana sudah menunggu,"jawabnya sambil mengucap salam berpamitan berangkat lagi.

Tak terbesit sedikit untuk berpikir kalau mereka mungkin wujud manusia jelmaan. Saya dan Lakis pun urung ke tenda guru dan memilih balik lagi lokasi perkemahan kami.

Ketika itu saya berguman "Sepertinya mereka itu pendaki kawakan. Tanpa alat penerangan pun sanggup berjalan cepat dimedan licin. Sampai-sampai kami berdua tidak bisa mengejarnya"guman dalam hati saya. Lantaran belum mengucakan terima kasih untuk pemberian mereka.

Hingga sekarang memasuki usia tua, terkadang saya masih bertanya-tanya siapa gerangan sosok mereka itu. Manusiakah?. Entahlah, bagi saya pribadi momen itu selalu dijadikan kenangan serta pembelajaran hidup saya. Dan setelah peristiwa itu saya pun selalu banyak intropeksi diri menuju kedewasaan dalam berprilaku mau pun berpikir.

Ya, rentetan kejadian beberapa tahun silam itu menjadi bingkai tentang kami, tentang teka teki, tentang alam dan tentang pembelajaran saya. Mungkin teman-teman yang sama-sama melalui pengalaman itu sudah tua. Mudah-mudahan masih mengingat kisah itu, terutama yang pada ngompol dicelana hehe. Jangan lupa ceritakan kepada anak cucu kita kalau Bapaknya suka berpetualang ketika muda.

Dikisahkan oleh: Ace Alumni SMA BCI Angkatan 2000