Terlilit Bank "Emok" Satu Keluarga Tinggalkan Kampung

Terlilit Bank "Emok" Satu Keluarga Tinggalkan Kampung

TANJUNGSARI--Keberadaan bank keliling atau biasa disebut Bank Emok di Kabupaten Bogor terbilang meresahkan. Pasalnya, akibat sistem yang dibuat oleh bank emok sendiri sangat merugikan nasabahnya. Bahkan akibat salah satu warga yang di dominasi emak-emak itu tak bisa membayar cicilannya banyak yang Cerai dengan suami, meninggalkan rumah beserta keluarganya dan masih banyak lagi. Hal itu nyata terjadi di Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, lantaran terhimpit ekonomi, banyak dari warganya yang bergantung kepada Bank emok hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun akbibat dari dari terlalu banyak bank emok yang dipinjam hingga tidak bisa mengembalikan tunggakannya, satu keluarga di Desa tersebut bahkan harus meninggalkan rumahnya lantaran malu dengan tetangga dan nasabah lainnya.

 

Istilah bank emok lahir dari kata bahasa sunda yang berarti duduk. Dalam perjanjiannya, ada yang disebut tanggung renteng atau tanggung bersama. Bilamana ada salah satu nasabah yang tidak membayar cicilannya maka nasabah yang lain yang harus menanggung pembayaran secara bersama.

 

Hal itu yang membuat banyak warga yang meninggalkan rumah dan bercerai lantaran malu dengan nasabah lain.

 

Kepala Desa Sukarasa, Endang Farid Ma'ruf mengatakan dirinya sangat keberatan dengan adanya Bank emok tersebut lantaran sudah meresahkan warganya. Namun dirinya tidak bisa berbuat banyak, karena pada saat berencana untuk membubarkan bank emok terbut ada beberapa warga yang tidak setuju. Biasanya dari yang tidak setuju itu dikarenakan akan ada pencairan dan dianggap menunda pencairan jika pihak desa melakukan peghentian.

 

"Kalo kita dari pihak desa dangat keberatan dengan adanya Bank emok tersebut, soalnya sudah banyak yang jadi korbannya. Ada suaminya yang ga tau kalo istrinya pinjem, pas ada yang tagih akhrinya suaminya tau dan bahkan ada yang cerai. Ada lagi yang sampai ninggalin rumah nya karena malu sama tetangga lain, itulah yang bikin resah," ucapnya.

 

Selain banyak yang dirugikan, sambung Endang sangat menyayangkan banyaknya warga yang membutuhkan dana dari bank emok itu untuk kebutuhan sehari-hari.

 

" Jadi kita juga kebingungan utnuk mengatasinya, saat kita mau mencegah bamk emok masuk malah ada yang menghalangi katanya mau ada pencairan." sambungnya.

 

Tak mau banyak yang jadi korban, Farid sapaan akrabnya berencana akan mengatasinya dengan program yang akan hadir di Kecamatan Tanjungsari dengan menggandeng Bank Jawa Barat (BJB) dengan pinjaman tanpa bunga. Namun, dia tidak mengetahui pasti kapan program tersebut akan terwujud lantaran pihaknya masih mencari info terkait dengan peluncuran pinjaman tanpa bunga tersebut.

 

"Saya dengar akan ada program pinjaman tanpa bunga yang bekerjasama antara Kecamatan Tanjungsari dan bjb. Nantinya warga akan dialihkan untuk meminjam ke Bank milik Pemerintah Jawa Barat itu. Untuk pastinya nanti akan saya cari informasi ke Kecamatan. Karena memang hal seperti itu lah yang bisa mencegah masuknya Bank emok ke desa Sukarasa," tandasnya.***